Tag Archives: ojek

BBM naik, tarif ojek justru turun

Karya : Ikhsan Dwiono

Kenaikan BBM selalu diikuti dengan gejolak di masyarakat. Kalangan pedagang dan pemberi jasa termasuk golongan yang responsif. Sebungkus nasi uduk harganya menjadi Rp 4.000,- naik Rp 1.000. Padahal pengumaman BBM-nya baru dilakukan pada malam harinya. Beberapa Sopir angkot pun mulai menaikkan tarif, meski pengumaman resminya belum dibuat Organda. Parahnya, sopir bajaj biru ikut-ikutan naik, padahal dia kan gak pake BBM tapi BBG. :mrgreen:

Yang asik tuh tukang ojek di kampungnya Mas Ikhsan Dwiono, tarif berdasarkan berat badan. Jadi, BBM naik -> Sembako naik -> Ngirit dong -> duh, jadi kurus deh -> Asik, tarif ojeknya turun.. 😀


Suara Merdeka, 4 Januari 2015

Black Campaign dan otak kiri

Suatu ketika si Bontot yg masih klas 1 SD uring-uringan karena bangun kesingan. Ketika aku tanya kenapa, jawabannya : nanti terlambat ke sekolah dan dimarahi pak guru. Jawaban yang sangat bisa dimaklumi, namun perlu pelurusan lebih lanjut. Idealnya. terlambat jadi sesuatu yang menyebalkan bukan karena kemarahan pak guru, tetapi karena kita tidak bisa mengikuti pelajaran.

Kang Kateno dari Pringkuku, hendak membeli buah di Pasar Arjowinangun. Dua orang Pedagang buah saling berlomba mempromosikan dagangannya. Pedagan alpokat bilang, jeruk itu bisa menyebabkan penyakit mag, bikin mencret, bla bla bla… Pedangang jerukpun gak mau kalah dan bilang bahwa alpokat itu bisa bikin darting, kolesterol naik, dan bisa bikin stroke.. Kang Kateno yang orang awam pun jadi bingung, milih alpukat atau jeruk, karena info manfaat dari kedua buah itu sangat sedikit karena tersamarkan oleh promosi pedagang tsb.

Okeeh, dua ilustrasi itu sebenarnya bentuk dari penggunaan otak kanan yang belum diberdayakan untuk menjadi kebiasaan. Memulai berfikir dengan yang jelek-jelek, jelas bukanlah awal yang baik untuk memulai sebuah aktivitas yang baik. Hiruk pikuk kampanye pada Pilpres 2014 sudah usai. Berbagai perilaku teman, tetangga dan orang-orang selama masa kampanya mungkin membuat kita geli. Sebut saja kang Kliwon si maniak, yang selalu membuat status yang berkaitan dengan isu negatif lawan jagoannya, profil di Facebook, Twitter, BB dan WA pun diganti sesuai dengan logo jagoannya. Ada juga Kang Paing yang sejak datang di kantor, di toilet, di mushola sampai pas ngantri absen pulang, yang diomongi pilpres melulu, Belum lagi berbagai meme yang bisa bikin geregetan, marah dan tergelak. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa otak kiri itu ternyata masih banyak dimanfaatkan orang untuk mendongkrak popularitas jagoannya. Yayat Ceking bilang “back campaign” namanya. Semoga ending dari pilpres 2014 sesuai dengan harapan Yayat Ceking. “HABIS PILPRES TEMANAN LAGI KOG..” :iloveindonesia

Kartun Pikiran Rakyat, 1 Juni 2014

YAYAT CEKING – Karya : Rond & A’doen

“Black Campaign” 🙁

yayat ceking

JOKIS & NAIS – Karya : R. Amdani & Kipod

“Perbedaan antara Tukang Ojek dan Pacar” :mrgreen:

Jokis dan Nais